Jumat, 30 November 2012

Teknik Budidaya Ikan Bandeng

     

                  1.1.    Latar Belakang

         Bandeng (Chanos-chanos) merupakan jenis ikan yang bisa dibudidayakan pada tambak. Potensi tambak Indonesia tersebar di seluruh tanah air, hanya ada tiga propinsi yang tidak memiliki tambak yaitu Sumatera Barat, Jakarta dan Yokjakarta. Propinsi Jawa Timur merupakan propinsi dengan tambak terluas, dimana Tahun 2000 tambak tercatat  total dengan luas tambak 53.423 ha atau 15% dari luas tambak di Indonesia (BP 2002). Pusat tambak terletak di Kabupaten Gresik dan Sidoarjo dengan luas tambak masing-masing 38,44% (20.535,8 Ha) dan 32,17% (17.186,2 Ha) dari luas tambak Jawa Timur (Dinas Statistik Propinsi Jawa Timur, 2003), dimana lebih dari 60% (19117,2 Ha) merupakan tambak bandeng.
         Bandeng (Chanos-chanos) adalah jenis ikan konsumsi yang tidak asing bagi masyarakat. Bandeng dapat hidup di air tawar, air asin maupun air payau. Selain itu, bandeng relatif tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air sehingga bandeng mempunyai nilai lebih daripada produk perikanan yang lain. Maka banyak masyarakat yang menkonsumsi bandeng yang kemudian menyebabkan meningkatnya permintaan terhadap komoditas bandeng. Dalam sepuluh tahun terkahir muncul permintalahan sebesar 3, 82 % per tahun.
      Sampai saat ini sebagian besar  budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Hal ini bertolak belakang dengan permintaan terhadap bandeng yang telah dijelaskan pada uraian di atas.  Oleh karena itu, untuk memenuhi permintaan pasar yang besar ini perlu dibudiddayakan bandeng secara intensif. Keberhasilan untuk budidaya bandeng tidak bisa terlepas dari faktor-faktor teknis meliputi sumber air, dasar perairan.

1.2.  Tujuan
      Tujuan dari pelaksanaan Budidaya Ikan Bandeng ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat tentang budidaya ikan bandeng (Chanos chanos) yang baik dan cara mengatasi permasalahan yang dihadapi serta penanganan khususnya.

A.  Budidaya Bandeng Dalam Tambak
         Berhasilnya membudidayakan bandeng dalam tambak tergantung oleh beberapa faktor, diantaranya :
1.   Persiapan Tambak
a.   Pengeringan tanah dasar tambak
Pengeringan tanah dasar tambak yang diperlukan antara lain sebagai berikut :
-     Pengeringan selama 7 hari dan jika cuaca kurang baik 14 hari
-     Pengeringan tanah tambak dilakukan hingga jika tanah diinjak hanya terbenam sekitar 1 cm
-     Pengeringan sampai 2 lapisan sebelah atas tanah dasar tambak
-     Pengeringan sampai tanah dasar tambak retak-retak dan kadar airnya 18 – 20 %
b.   Perbaikan kontruksi tambak
Tahap awal dari persiapan tambak adalah perbaikan tata pertambakan yaitu meliputi perbaikan pematang, perbaikan pintu dan saringan, pembuatan caren (saluran keliling) dan perbaikan bocoran. Pemetang petakan yang telah terkikis (longsor atau aerosi) harus diperbaiki. Bocoran pada pematang akibat kepiting atau hewan lain perlu ditutup. Pada kaki pematang petakan sebaiknya dibuat ”berm” yang dapat berfungsu sebagai penahan longsoran tanah dari pematang dan sebagai tempat untuk memperbaiki bocoran. Keadaan pintu yang sudah atau agak rusak perlu diperbaiki. Pada bagian pintu arah petakan dipasang saringan halus (kasa nillon atau yang sejenisnya) yang berfungsi untuk mencegah masuknnya ikan liar atau udang dipelihara selama pengaturan air dipetakan tambak.
c.   Pengapuran tanah dasar
Pengapuran tanah dasar tambak mempunyai peranan sebagai berikut :
-     Menetralisirkan asam bebas yang terdapat di air.
-     Menyangga goncangan pH tanah yang mencolok.
-     Membantu mengendapkan bahan koloid yang terdapat dalam larutan tanah.
-     Mendorong bakteri pemecah bahan-bahan organic untuk bekerja lebih aktif dalam pelepasan bahan organic.
-     Mendorong pertumbuhan spesies pertumbuhan air yang cocok untuk manakan ikan.
-     Membantu pembentukan tulang ikan dan pencegah kelainan tulang.
-     Memperbaiki kondisi tanah.
d.   Pemupukan
Pemupukan dimaksudkan untuk menyuburkan tanah dalam merangsang pertumbuhan klekap. Pemupukan dilakukan setelah tanah dasar dikeringkan. Tanah dasar yang telah dikeringkan ditaburi dengan dedak kadar (500 kg/ha) dan bungkil kelapa (500 kg/ha, kemudian diari sekitar 10 cm, setelah kering baru diberi pupuk kandang atau kompos (100 kg/ha) dan diairi lagi sedalam 5 – 10 cm kemudian diberi pupuk organic berupa urea (150 kg/ha) dan TSP ( 75 kg/ha). Setelah tumbuh klekap (sekitar seminggu sesudahnya) secara berangsur-angsur tinggi air dinaikan dan pada saat itu bandeng sudah dapat ditebar.
         Pemupukan dilanjutkan dapat dilakukan beberapa kali dan dilakukan setelah melewati 2 bulam pemulihan (atau tergantung dari kesuburan tambak). Pupuk yang digunakan adalah Urea dan TSP dengan dosis 10 – 25 kg/ha dan 15 kg/ha. Pada saat dilakukan pepupukan susulan tinngi air tambak tidak boleh lebih dari  1 meter. Setiap kali dilakukan pemupukan cuaca harus dalam keadaan cerah.
2.   Pengisian Air
Air yang digunakan sebagai media budidaya adalah air laut yang dimasukkan kedalam tambak dengan memanfaatkan pasang atau pompa, dan air tawar dari sungai. Salinitasnya sekitar 10 – 35 ppm atau digolongkan kedalam air payau. Jumlah air tambak ditentukan oleh pasang surut air laut sebagai suplai air tambak. Tambak air payau kebanyakan dibangun didaerah pasang surut yaitu pasang surut tertinggi dan terendah. Jika kekeruhan sangat tinggi, maka perlu dilakukan pergantian air.
Biasanya pengisian air ataupun pergantian air menggunakan pipa paralon (PVC). Pipa paralon disebut juga pipa goyang atau stand pipe. Cara pemasangan ialah dengan memasukkan salah satu ujung pada bagian tambak. Sedang yang lainnya berada diluar tambak dengan ujung berbentuk huruf L. Untuk memudahkan pengisian air, maka yang ada dibagian ujungnya (dari elbo) tidak diberi perekat agar mudah digerak-gerakkan keatas dan kebawah.

3.   Penebaran dan Aklimatisasi
Penebaran nener yang baik yaitu dengan langkah awal dalam budidaya bandeng. Selanjutnya nener akan berkembang dalam setiap petakan pada tambak yag telah disediakan. Saat yang baik untuk menebarkan nener ialah pada pagi atau sore hari pada pertengahan musim penghujan. Pada saat-saat tersebut jumlah air dalam tambak tercukupi sehingga kadar asam dan gas-gas beracun teroksidasi. Dengan demikian nener tidak mengalami kematian. Penebaran yang tepat ialah pada pukul 6.00 sampai pukul 7.00 pagi yang mana udara masih segar dan suhu belum naik.
Jumlah benih yang harus ditebarkan tergantung dari kesuburan tambak dan tingkat pengelolaannya. Namun, bila makanan alami (klekap, lumut, plankton) cukup tersedia. Maka untuk bandeng dapat dilakukan penebaran nener dengan padat penbaran 30 – 60 ekor/m2 (ukuran antara 0,005 – 0,007 gram).
         Padatnya penebaran harus seimbang dengan persediaan makanan alami. Apabila merangsang makanan alami seperti klekap dan plankton lebih pesat dengan pemupukannya. Perhitungan penebaran yang tepat ialah satu Hektar diisi maksimal 5000 – 7000 ekor/Ha.
4.    Monitoring Pertumbuhan
Perkembangan nener sangat tergantung dari padatnya penebaran. Dalam satu Hektar dapat ditebar 1000 ekor pada petak pendederan. Perkembangan nener menjadi pesat jika airnya dalam keadaan jernih dan banyak terdapat plankton dan klekap. Kejernihan air mempermudah bagi ikan untuk memproleh makanan karena penglihatannya tidak terhalang. Pemberian makanan tambahan berasal dari dedak halus yang dicampur dengan pupuk yang dapat memacu pertumbuhan ikan.
Setelah berada pada petak pendederan selama satu bulan nener sudah mampu mengenali lingkungannya.Tingkah laku nener yang berada dalam petak pendederan setelah adanya pencampuran air dari tempat yang berbeda dapat diamati. Ikan yang sudah mengenali lingkungannya dan mampu menerima keadaan air, akan bergerak melawan arus.
         Apabila nener dipelihara dengan baik maka perkembangannya berjalan dengan normal. Hal-hal yang perlu diperhatikan ialah meliputi penumbuhan makanan alami, penumbuhan klekap, pemberian makanan tambahan, pengaturan irigasi, menjaga kualitas air, dan mempertahankan suhu. Setelah selama sebulan nener berada dalam petakan pendederan/peneneran, maka barulah dipindah kepetak gelondongan. Pada usia ini nener sudah berukuran 5 cm.
         Pemberian makanan perlu ditingkatkan lagi guna memacu perkembangan sehingga belum sampai usia enam bulan bandeng sudah bisa dipanen. Setelah berada dalam petak gelondongan, ikan dipelihara selama 2 bulan. Kemudian dipindahkan kedalam petak pembesaran yang selalu disertai dengan masalah seperti munculnya ikan pesaing dan predator.
5.    Penggelolaan Kualitas  Air
         Kualitas air yang telah sesuai dengan kebutuhan ikan harus tetap dipertahankan. Bila terjadi perubahan mendadak, secepatnya diupayakan pemulihan agar ikan tidak stress atau mati. Perhatian serius kearah ini akan menbuahkan hasil yang memuaskan Karena kualitas sangat erat hubungannya dengan menumbuhkan makanan alami.
6.    Pengendalian Pakan (Alami dan Buatan)
Tersedianya makanan alami dalam tambak tergantung pada pemupukan tambak sebelum nener ditebar. Dengan pemupukan, banyak unsure hara yang terlarut, selain komposisi kimiawi yang ada pada dasar tanah menjadi lebih baik dalam menyediakan unsur nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, ferum, serta unsur-unsur mikro lainnya.
         Ditambak terdapat beberapa jenis pakan alami yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan bandeng. Jenis tersebut adalah klekap, lumut, plankton dan organisme dasar (benthos). Namun demikian, jarang sekali semua jenis tersebut dapat hidup dan tumbuh dalam tepat dan waktu yang kebersamaan. Hal ini tergantung dari keadaan kulaitas air dan tanah serta kedalam air tambak.
7.    Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama tidak hanya menurunkan produksi bandeng tetapi juga merusak ekologi tambak. Menurut Antoni dan Wibowo (1996) hama digolongkan menjadi :
- Hama pemangsa, contohnya Ikan kakap, ikan bulan-bulanan, ikan keting, ikan kipper, ikan sembilang, dll.
- Hama penyaing, contohnya ikan belanak, ikan mujair, trisipan.
- Hama perusak, contohnya kepiting dan ular.
Untuk membrantas ikan liar seperti belanak, bronang, mujair, dan ikan-ikan buas digunakan akar tuba atau jenu yang mengandung rotene. Takaran pemakaian 4 – 6 kg akar dan setiap 1 Ha tambak. Sedangkan, untuk membrantas sifut (terutama trisipan) menggunakan brestan dengan takaran 1 kg/Ha
Penyakit yang sering menyerang ikan bandeng yaitu pembusukan ekor/sirip. Vibriosis dan streptoccosis. Obat yang diberikan pada ikan yang terserang penyakit yaitu dengan pemberian antibiotik.

8.    Panen dan Pasca Panen           
Setelah dipelihara ditambak  sampai usia 5 bulan atau sesuai dengan permintaan. Pemanenan bandeng dapat dilakukan dengan beberapa cara berdasar sifat bandeng yang selalu bergerak keliling tambak dimalam hari dan tertarik cahaya serta merangsang oleh pergerakan air.
Penanganan terhadap bandeng yang telah dipanen sebaiknya dilakukan dini hari atau temperature suhu masih rendah sekitar 50C agar bandeng memiliki kualitas yang baik. Bandeng yang dipanen pada temperatur tinggi sangat peka terhadap penurunan kualitas. Bandeng tidak hanya dikonsumsi masyarakat dalam negeri, tetapi juga diekspor. Oleh karena itu, kualitas bandeng yang akan diekspor merupakan factor yang sangat penting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar